Ngaronda

  Ciwatra, 5 Februari 2022

1

Di bale bambu beratap bilik yang biasa disebut saung, kepulan asap rokok tebal menyamarkan penerangan dari lampu. Setiap helaan napas dari 4 orang yang disana pada waktu yang hening, dengan sadar menciptakan hembusan Silent Killer Breath. Sloki Anggur Merah diputar demi kehangatan dinginnya malam serta harapan suasana menyenangkan lebih tahan lama. Apalagi, menunggu pagi di waktu ronda malam masih terbilang cukup lama. "Surga yang semu sedang diciptakan". 

    Saung ini berada dalam komplek biasa dengan desain minimalis yang semuanya seragam. Bisa dibilang komplek tersebut baru dibangun. Penghuninya kebanyakan dapat dikatan adalah pejuang dari desa yang merasa gagal untuk dapat menaklukan tanah di tengah kota, sehingga di pinggiran lahirlah urbanisasi yang bersifat kompleks. Jika melihat dari sisi belakang saung, terlihat sabana membentang. Dan dari jauh, terlihat pula jembatan rek KRL yang sedang mangkrak hingga 2 tahun kedepan.

    Lekovijk salah seorang di saung itu berkata "Apalah daya malam bila dingin menguasai diri? mengapa pula tak segera tidur?".  

" Tak tahu kah kau, bahwa kita perlu terjaga di setiap malam hingga kokokan ayam terdengar dengan kepakannya?". Sahut Kusnaidi

"Menjaga malam? hahaha. Untuk apa pula kita menjaga malam? tak bisakah kita membayar upah untuk penjaga lain?" Celoteh Kemal. 

"Sudahlah, kita nikmati saja ini. Pun, bagian kita akan digilir  Kalian tahu pula bahwa kepala keluarga disini mengalami kesenjangan semrawut oleh bangsat sialan." Kata Kusnaidi.

Terihat Konyakdut hanya diam mengamati pembicaraan itu. "Diam saja kau? ayolah nimbrung Konyak!". Ujar Kemal. Konyakdut hanya menjawab dengan tersenyum, namun sikapnya, tidak memberhentikan pembicaraan.

    Kemudian saat malam menjelang tengah, pelannya hembusan angin merayu mereka untuk merekatkan kelopak mata. Oleh karenanya mereka berempat memutuskan untuk menyepakati shift secara bergilir dengan keputusan secara acak. Kocok kertas. Dari itu, dua orang yang tepilih tidur, dan dua orang sisanya harus tetap terjaga. 

Sloki sudah berhenti berjalan, angin tetap merayu dan suara daun pepohonan yang berhembus semakin memantik rasa untuk tumbang. 

"Gimana kalau kita buat api?" kata Kusnaidi yang terpaksa masih terjaga dengan raut muka kusut menahan kantuk.

"Ide bagus". Jawab Lejkovijk hang sama-sama kusut.

Kemudian Kusnaidi mengumpulkan dedaunan kering dan ranting-ranting yang ada di sekitar saung. setelah terkumpul cukup, dinyalakanlah api oleh Lejkovick.

2

Api tetap menyala dan seorang ketiga tetap terjaga. seorang kedua tertidur dengan keadaan kepala yang tersandar di dinding saung. Seorang ketiga tidak tega untuk membangunkan seorang kedua. Dia memiliki kutukan menyebalkan sebagai orang yang serba tidak enakan. Akhirnya secara baik-baik saja dengan rasa kantuk yang tertahan, ia (seorang ketiga) melanjutkan shift-nya dengan sisa rentang waktu satu jam lagi sampai tidur menjadi gilirannya. 

    Seorang ketiga inipun melamun menatap api. Tiba-tiba ada seseorang yang asing dari jauh berteriak kencang berkata "Bangun, bangun, bangun.". Kemudian seorang ketiga terbangun membuka mata dan menyadari bahwa ia baru saja terbangun dari mimpi. Seorang kedua-lah yang sebenarnya berteriak itu. Terlihat pula cahaya pagi menyilaukan mata. "Kenapa kau tak membangunkanku? gara-gara kau, kita semua tertidur hingga pagi" tanya seorang kedua. Seorang ketiga masih terdiam belum segar benar karena baru terbangun. Tak jauh berselang waktu kemudian, terdengar kabar berita bahwa ada dua motor yang baru saja hilang tadi malam.


Fikri Husni Hidayat


Komentar

Postingan Populer