Perapian

 Sepertinya kita harus meninggalakan tempat ini. Kita sudah sekarat.”


Kujangsari, 21 Oktober 2021

       Waktu itu, semua malam akan tertuju pada suatu tempat perapian. Melihat langsung kedepan, terlihat lalu lalang mobil melaju cepat tiada hentinya setiap waktu di jalan tol Purbaleunyi. Ya, tempat ini semakin hari semakin berisik dengan bertambahnya frekuensi knalpot. Belum lagi suara mesin proyek pengerjaan rel kereta cepat Jakarta – Bandung, yang  rencananya berakhir pada tahun 2025.

Sebelumnya, Indra adalah yang membuat tempat tersebut. Karena kebetulan, tempat yang layak di jadikan perapian itu, berada di depan rumahnya. Bangkai pohon tumbang dibuat Indra, menjadi tempat penopang tulang ekor. Dibuat pula meja dan beberapa kursi kecil dari ranting bangkai pohon dan beberapa kayu bekas. Semua dibuat seada-adanya dengan paku yang kadang masih menonjol. Setelah itu, diletakanlah kursi-kursi membentuk leter L dengan sisi kanan merupakan tungku perapian dan meja di tengahnya.

“Suasana disini industrialis.” Kata Gareng yang duduk di dekat perapian berjarak 1 meter. “tapi untungnya, pohon kersen dan selong yang tumbuh bak rumput di sekitar sini, sedikit memudarkannya.”

            Setiap hari, suara halus dari tiupan angin dingin, menghantam dedaunan serta semak belukar. Sehingga, menghasilkan tempo dengan irama halus. Apalagi, suara gesekan kedua daun yang bersebelahan di pepohonan, seakan, mereka memberitahu kami akan kehidupan mereka yang sunyi. Hanya bertumbuh dan tidak pernah bergerak. Anehnya, mereka tidak pernah merasa bosan dengan itu.

            Tahun 2020 adalah tahun pertama perapian itu dilapaki. Beberapa dari kami; Aku, Gareng, dan Bayu yang rata-rata mahasiswa semester 3, adalah yang mendiami tempat perapian tersebut. Alasan kami bersatu dalam perapian-pun, sama halnya seperti pepohonan itu; Sunyi. Tapi yang membuat berbeda, kami bisa bergerak dan dapat menghantam sunyi secara sadis. Karena kami, selalu merasa bosan dengan sunyi.

            Perbincangan kami biasa saja, atau mungkin sama dengan yang lain. Dimulai dengan membahas cinta, kemudian membahas bercinta, kemudian filsafat, kemudian agama, dan yang terakhir di tengah malam; ketidakjelasan.

Ketidakjelasan dimulai, ketika suatu waktu perbincangan di perapian tengah malam sedang terjadi.

            “Korona!!! Aaaaaaa!!” Teriak Indra yang duduk di dekat perapian. Kemudian meludah.

            “Kenapa maneh?” Tanyaku.

            “Didudadadu dadudadu.” Jawabnya bicara tidak jelas.

       “Kenapa kau Ndra? Gigugagagu gagugagu.” Tanya Gareng yang sedang memainkankan bara api perapian dengan kayu dan duduk di samping Indra.

            "Diduda....dadu, dadudadu."Jawab Bayu dengan intonasi seperti menjelaskan.

        “Nanaonan sih? Ngomong gak jelas. Pusing aing jadinya.” Kataku kesal sambil berdiri menghadap mereka. 

.           “gigugaga.... sia-sia.” Pungkas Indra, bersuara kecil, sambil memiringkan muka ke kanan.”Tidak berguna pula aku menjelaskan padamu, sedangkan keadaan mustahil berubah jika ku jelaskan.”Lanjutnya, yang membuatku terdiam mengalah. Dan akhirnya, mereka kembali melanjutkan gigugagagu dadudadu-nya.

            Suasana euforia lahir di tempat ini. Seakan, keadaan yang berulang begitu, tetap menjadi kiblat kami berkumpul kembali. Kami senang. Kami tertawa. Kami bahagia. Kami gila. Dan yang penting, kami bisa merasakan hidup.

            Namun akhirnya, kebosanan bagai kematian didepan mata. Angin, selalu saja memantik alam bersenandung kesunyian. Mobil-mobil di jalan tol, masih saja tetap berjalan dengan cepat. Proyek kereta, masih saja bising ketika beroperasi. Akhir perbincangan  kami, masih saja didudadadu gagugagu.

            “Sepertinya kita harus meninggalkan tempat ini!!” Kata Gareng suara pelan.

            “Kenapa?” Tanyaku.

            “Kita, sudah sekarat.”

 

Komentar

Postingan Populer