Mimpi Buruk 1 (Tangisan Anak Perempuan)

 


“Jika sudah berlayar, jangan tak sampai” kata ibu berumur sekitar 40 tahun dengan mengenakan baju dress merah. Kerutan di wajahnya tampak timbul, kelopak mata yang hitam terlihat tebal, dan rambut terulir degan uban yang separuh menguasai kepalanya. Sambil mengupas kulit mangga di meja makan yang kemudian diletakan daging mangga itu pada pisin. 

Anaknya yang berumur 12 tahun, menyaksikan ibunya yang sedang mengupas mangga sembari duduk di depan ibunya sembari memainkan jari jempol dan kelingkingnya yang kecil. Dipandangnya langit merah dari balik jendela yang berjarak sekitar 5 meter dari posisinya, takkala jam masih pukul 3 petang.

“Artinya apa mah?” Tanya anak lelaki itu pada ibunya dengan wajah yang bingung nan polos terhadap pernyataan ibunya tadi.

Ibunya hanya diam dan menarik nafas dalam-dalam, masih lanjut mengupas mangga di meja makan. Terlihat mangga yang di meja makan itu berjumlah 20 buah. Mangga tersebut hasil dari memetik dari pohon di depan rumah. Mungkin, ibunya berniat untuk mengupas semua mangga itu dari 5 buah yang sudah terkupas.

“Mah, kok diam saja?”

Beberapa saat kemudian, terdengar suara tangisan anak perempuan. Dengan badan yang diam, bola mata ibu itu terlihat mencari sesuatu sambil meletakan pisau dan mangga secara perlahan di atas meja. Suara tangisan itu adalah anak perempuannya yang baru berumur 8 tahun, sekaligus adik dari anak lelaki itu yang berasal di kamar lantai 2. Anak lelaki itupun mendengarnya pula sambil bangkit dari kursinya. Ibunya masih saja diam di kursi memandang kearah asalnya suara yang berada di kamar anak perempuannya.

“Mah, dia nagis lagi,” Kata anak lelaki itu. Dan kemudian tangisan masih saja terdengar semakin keras.

“Adikmu lapar.” Kata ibu dengan suara pelan dan mengerut.

“Bukankah, kita memiliki banyak mangga?”

“Ya, syukur saja tidaklah cukup”

Anak lelaki itu masih tak mengerti maksud dari perkataan ibunya. Kemudian ia menuju lantai 2 ke kamar adiknya. Dia kemudian membuka pintu kamar adiknya dengan pelan-pelan sampai terbuka seperempat. Setelah itu, kakaknya mengintip.

“Kenapa dik?” tanya

Adiknya tidak menjawab dan hanya menangis saja. Kemudian, anak lelaki itupun menutup pintunya, lalu kembali menuju ibunya. Terlihat ibunya sudah tidak berada di meja makan. Ia mencari-cari ibunya ke kamar ibunya, ruang tamu, bahkan ke halaman belakang. Tapi, ia tak menemukan ibunya.

Beberapa saat kemudian, tangisan anak perempuan itu berhenti. Beberapa selang setelah itu pula, ibunya turun dari lantai 2.

“Mah dari mana?”

“Dari kamar adikmu nak.”

“Loh, kan aku tadi dari kamarnya dan ibu masih di bawah. Kok tiba-tiba ibu diatas.”

“Kamu hanya terlalu cuek nak.”

Anak itupun terdiam bingung dan terasa pusing dengan kepolosannya. Kemudian, ia menuju kamar tidurnya sambil merenung tentang apa yang terjadi di hari itu. Karena stress dengan perenungan yang ia lakukan, kemudian anak lelaki itupun mengambil buku novel Proust di raknya, lalu membacanya sambil tiduran diatas ranjang hingga lama-lama megantuk. Setelah itu perutnya berbunyi, yang membuatnya tidak jadi mengantuk dan keluar dari kamar menuju meja makan.

Terlihat ibunya melanjutkan mengupas mangga. Dan sekarang mangga yang di kupasnya sudah memenuhi 16 pisin.

“Ada makanan mah? aa lapar.”

“Nih mangga.” Jawab ibunya sambil menyodorkan pisin pada anaknya.

“Sudah lama tak makan nasi”

“Nasi tak ada. Katanya ayah mau bawa nasi.” Jawab ibunya.

“Tapikan ayah belum pulang sejak 8 tahun yang lalu.”

“Ayahmu sedang berlayar.” Lalu dia berdiri kepada anak lelaki itu dan memegang pundak anak lelakinya.

“Sabar nak, kita hanya punya ini. Syukurilah apa yang ada dan ayah pasti akan datang. Percayalah kata-katanya” Kata ibunya sambil menyodorkan pisin yang dipenuhi daging mangga. Kemudian, ibunya membawa pisin 1 lagi dan menuju kamar anak perempuannya.

Sudah sedari dulu semenjak ayahnya pergi, mereka selalu memakan mangga dari pohon depan rumah. Jikapun tidak mangga, jamur dari dedaunan kering pohon mangga yang dikumpulkan-pun, jadi santapan yang lain. Tapi untungnya, pohon mangga yang selalu tumbuh buahnya setiap bulan, mangga itu manis dan cukup baik seratnya, sehingga taidaklah begitu bosan untuk dimakan sesering mungkin.

Disantaplah mangga itu oleh anak lelaki. Dengan penuh keheranan, kenapa bapaknya tak kunjung datang untuk membawakan nasi yang di janjikan. Anak lelaki itu rindu dengan nasi. Persetan dengan lauk pauk, nasi pun tak ada.

“Mahhhhh!!!” Teriak anak perempuan dari kamarnya. Terus mememanggil mamahnya dan sepertinya, mamahnya tak ada di kamar adiknya. Kemudian anak lelaki itu menyudahi santapan mangganya, bergegas ke kamar adiknya.

“Ada apa dek?” Tanya anaj lelaki.

“Bukan kamu!!! Mamah mana?” kata anak perempuan sambil terisak.

“Bukannya tadi di kamarmu?”

“Tidak. Mamah tidak ke sini dari tadi.”

Bingung lagi wajah anak lelaki itu. Padahal, ia melihat mamahnya membawa pisin ke kamar adiknya belum lama. Lantai 2 sekaligus kamar anak perempuan itupun, sangat terlihat dari meja makan yang ia tempati dari tadi. Kemudian, ia melihat pisin tepat di samping depan pintu kamar adiknya yang masih dipenuhi dengan daging mangga yang tadi dibawa oleh ibu. Di ambilah mangga itu oleh anak lelaki itu yang kemudian menawarkannya kepada anak perempuan. Namun, anak perempuan itu tidak menjawabnya.

Kembalilah anak lelaki itu ke bawah, menuju meja makan sambil meletakan pisin yang penuh daging mangga di meja makan. Kemudian, ia melanjutkan santapan mangga yang belum usai ia habiskan. Setelah huap demi huapan, ia kemudian mengitari rumah mencari ibunya yang entah kemana menghilang. Namun, ia tak kunjung menemukan ibunya di dalam seluruh rumah bagian dalam. Setelah itu, ia keluar menuju halaman rumah depan dan melihat, langit masih begitu merah. Tiba-tiba, ia melihat jejak kaki darah cukup tebal dari halaman tersebut. Anak lelaki itupun mengikuti jejak darah kaki tersebut sampai terhenti di gudang halaman belakang rumahnya.

Sesampainya di depan pintu gudang, ia pun membuka pintu secara perlahan. Setelah terbuka, terlihat barang-barang di gudang penyipanan barang penuh dengan debu, berantakan dan tidak pernah terurus. Tepat di balik rak kardus-kardus tengah ruang gudang, ia melihat ibunya sedang duduk sendiri dengan kakinya yang terlihat berdarah-darah.

“Mah, kenapa?” Tanya anak lelaki itu dengan heran dan sedikit takut. Ibu itu masih diam dan memandang ke atas selaksa lamunan menyelimuti mata dan telinganya yang tertutup. Anak itupun mendekati ibunya perlahan dari pintu gudang. Setellah sampai ibunya, ibunya menatapnya.

“Sudahkah kau makan?” Tanya ibunya.

“Sudah mah”

Ibunya tersenyum lebar seperti bahagia. “Kalau begitu, efeknya bereaksi tak lama lagi.” kemudian, ibunya berdiri perlahan . “Kau akan semakin dekat dengan surga”

“Aku akan mati mah?”

“Entahlah” Kata ibunya sambil tersenyum. “Selama ini, aku selalu menunggu ayahmu. Tapi, kamu tidak harus ikut menunggu. Kamu terlalu terlihat tegar dan polos. Ibu terlalu khawatir dengan itu.”

“Jika aku mati, aku belum sempat dewasa mah.”

“Setidaknya, matimu membuatmu dan aku tenang”

Anak laki-laki itupun memukuli ibunya seraya menangis sambil berteriak. Itulah tangisan kedua darinya setelah sebelumnya anak lelaki itu menangis saat baru dilahirkan. Lama kelamaan, pandangan anak lelaki itupun kabur secara perlahan dengan badan yang semakin lemas dan tenaga yang sudah menghilang dan akhirnya, terbaring di pangkuan ibunya. Ia melihat sesuatu yang gelap dan semakin gelap hingga Ketiadaan terlihat.

“Mah, Aku takut gelap”. Kata anak lelaki dengan mata yang sudah hampir tutup.

“Tenang nak. Kau akan meliat surga”. Setelah mendengar itu, anak lelaki itupun mati tersenyum. Beberapa saat setelah kematiannya, terdengar tangisan anak perempuan di kamar lantai 2.


Fikri Husni Hidayat

 

Komentar

Postingan Populer