Project personal 1
Hari ini adalah hari yang kuanggap tidak baik seperti hari-hari sebelumnya pada akhir-akhir ini, semenjak alasan-alasan yang seharusnya tidak menjadi landasan yang membelenggu. Yah, alasan yang menjadi pertanyaan mengapa aku harus merusak pemikiranku sendiri dengan hal yang tidak begitu penting.
Malam ini tepat jam 12 malam, setelah aku membaca beberapa referensi dan menonton video dari sosial media, aku memutuskan untuk membuat project yang mungkin ini menjadi penting untuk tahun yang akan datang. Dan tulisan malam ini, aku menantang diriku untuk menulisnya semalam. Dan itu semua tentang kekeliruan pikiranku yang membuatku frustasi berulang dengan sedikit pengharapan palsu yang selalu dipertahankan. Lingkaran setan ini harus kusingkirkan dengan mengingat memoar pemikiran hari ini. Oleh karena itu, aku menulis project ini.
Buku yang kubaca tidaklah banyak. Pemehamanku terhadap referensi, masih kurang terlatih untuk memahami secara cepat dan menyeluruh, bahkan lebih kuat memahaminya dengan menonton video yang terkait serta penjelasan melalui diskusi. Aku bukanlah pecinta buku yang ku baca selalu, melainkan amatiran yang mengaku pecandu buku. Oleh karenanya, banyak buku-buku yang kubaca dan tidak begitu kupahami menjadi dekonstruksi terhadap pikiran. Terkait mengapa hal itu bisa terjadi, banyak kemungkinan faktor yang tidak ingin kubahas karena itu bisa menjadi alasan yang bias.
Saat ini, aku tinggal di kamar kostan yang berada di daerah Binong, Bandung. Ruangannya cukup luas, namun karena musim hujan menjadi lembab oleh minimnya fentilasi dan intensitas cahaya matahari. Hal tersebut terlihat dengan bercak basah pada cat tembok berwarna kuning muda dan suhu udara yang terasa dingin. Sebenarnya tidak begitu betah tinggal di sini. Padahal, rumahku masih berada di kawasan Bandung, bahkan jarak dari kostan ke rumah yang ditinggali oleh ibu dan adikku hanya berjarak sekitar 17 km. Keputusan tinggal di kostan kuambil, lantaran rumah tersebut tidak memiliki kamar privat untukku. Untuk itu, aku tinggal di kostan. Walaupun, aku membuat-buat alasannya pada pertanyaan orang-orang tentang mengapa aku tinggal di kostan, dengan santai kujawab bahwa kemacetan parah di Kota Bandung yang menghambat akses ke kampus.
Tentang keluargaku, kami bukan keluarga kondusif. Bahkan jika diperbincangkan lebih lama, entah mengapa pikiran emosiku selalu meningkat, bahkan dari tulisanku ini. Beberapa saudaraku yang sangat kupercayapun sudah tidak terlalu ikut campur tangan untuk membantu lantaran kerumitan lingkaran setan di keluargaku. Yang pastinya, secara menyeluruh mengerucut pada persoalan ekonomi. Walaupun sebenarnya permasalahan tersebut dapat dibilang kompleks.
Selama di kostan, konsumsi yang kumakan adalah mie. Entah mengapa stigma anak kostan yang memakan mie ini sudah kurasakan. Makan sehari sekali dengan mie pun pernah kurasakan, bahkan yang lebih parahnya, masak dengan air dari keran. Entah itu salah satu merusak otakku sehingga menghambatku berfikir, tapi keseluruhan tulisan ini adalah hasil pikiranku sertelah mengosumsi mie selama 3 hari berturut-turut diantaranya 2 kali sehari tanpa toping (seperti telor). Tapi hari ini, aku makan mie 2 kali sehari dengan satu botol minuman berkarbornasi. Mengapa begitu, bukankah kamu memiliki orang tua? Ya, entah mengapa aku sedang tidak ingin terlalu banyak meminta akhir-akhir ini disamping kondisi keuangan orang tua yang tidak begitu baik. Selain itu, bisa karena malu, atau dalam hati kecil fatalistik adalah bunuh diri secara perlahan.
Fluktuasi fikiranku yang kadang meningkat dan menurun, saat ini aku dapat melihatnya dengan bermain catur. ELO caturku saat ini tidaklah tinggi hanya sekitar 1300 dan itu termasuk amatiran. ELO tersebut tercapai pada akhir tahun 2023. Namun kadang ELO-ku bisa menurun kembali hingga kurang dari 1300 dan juga pernah mencapai hingga 1400. Namun stak saat ini tetap di 1300. Penilaian tersebut entah merupakan hobi yang menjadi tindakan ceroboh untuk menilai kemampuan berfikirku, ataupun entah apa bagiku yang menjadi bentuk penilaian yang lebih baik. Tapi yang aku tahu dan kuyakini, seseorang yang mahir dalam catur, pasti memiliki kelebihan dalam kehebatan berfikir dalam konteks tertentu.
Perihal kampus, saat ini aku sedang di semester akhir dan sedang skripsi. Tentang masa setelah lulus, belum benar-benar ku fikirkan secara matang. Ibu dan bapaku berharap aku bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Bahkan ayahku, ingin aku melanjutkan kuliah S2 agar dapat menjadi dosen. Namun aku bertekad untuk mematangkannya atau mungkin, aku dapat mengambil sikap oportunis jika ada kesempatan yang datang.
Tentang Tuhan, aku sangat mempercayainya, namun Tuhanku tidak terdefinisi dengan jelas. Aku tidak tahu apakah Tuhan bisa didefinisikan secara universal? Itu adalah pemikiranku yang terpantik dari buku yang kubaca sebelumnya di masa SMA yang hampir membuatku gila. Dan lebih dikobarkan oleh seorang teman sekampus di tingkat pasca sarjana. Namun aku bersyukur dapat mendiskusikan dengan orang-orang yang berargumentasi dengan jelas, bahkan pada kritik yang bersebrangan yang tentunya berargumentasi. Terkait dengan do'a, aku sempat bertanya kepada salah satu dosen di filsafat di Unpar yang merilis buku berjudul "Demotivasi". Menurutnya, do'a tidak perlu berbentuk hal yang pertikuler. Partikuler? Oleh karena alasan tersebut, aku mengurangi kalimat do'a. Namun yang paling kuingat, aku bertemu dengan seorang kawanku yang berkeyakinan Kristen Protestan taat. Aku bertanya tentang Tuhan padanya. Jawabnya sederhana. Untuk apa memikirkan Tuhan jika tidak ada untungnya. Untuk apa juga meninggalkan agama jika agama itu menguntungkan. Dan itulah alasan saat ini aku meninggalkan agama, karena menurutku, agama tidaklah begitu menguntungkan.
Tentang kekeliruan yang banyak ku ambil adalah dari kontrol emosi. Amarah, senang, sedih yang kurang terkontrol menjadi hambatan dalam mengambil keputusan yang layak. Bahkan fikiranku kadang selalu berpindah ke tempat yang lain secara cepat. Dan rasa kekhawatiran berlebih menjadi pemicu yang paling dominan.
Yah, setelah tulisan ini selesai, aku hendak bermain game. Walaupun, besok adalah agenda hari dimana aku hendak berangkat ke Ciwidey untuk proses penelitian skripsiku. Semoga lancar.
Komentar
Posting Komentar